Kamis, 11 Desember 2014





















Dalam kondisi perekonomian keluarga yang sulit, Amel tetap tekun belajar. Prestasinya di sekolah sangat mencorong.

Dream - Amalia Suri. Inilah gadis belia asal Aceh yang terpilih mewakili Indonesia dalam kegiatan Sunburst Youth Camp (SYC) di Singapura. Gadis 18 tahun ini bergabung dengan tujuh siswi lain dari Indonesia. Mereka mengikuti kegiatan yang digelar oleh Singapore Technologies Endowment Programme (STEP), sejak 30 November hingga 6 Desember 2014.
Prestasi gadis yang karib disapa Amel ini memang mencorong. Putri pasangan Sofian Suri Muhammad dan Fauziah pernah mengikuti program pertukaran pelajar di Amerika Serikat tahun 2013-2014. Sehingga dia mendapat julukan `anak Amerika` dari kawan-kawan di sekolahan. Kini, teman-teman sekolah memanggilnya dengan julukan ‘anak Singapura’ karena mengikuti program SYT.
Amel dan keluarganya tingal di Desa Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara. Untuk nerangkat ke sekolah, setiap hari Amel harus naik angkutan umum. Anak ke dua dari lima bersaudara ini harus beranjak dari rumah sebelum jam tujuh agar tak terlambat ke sekolah.
Bagi Amel, tak mudah meraih prestasi yang mengkilap itu. Apalagi perekonomian keluarganya sempat terguncang karena sang ayah, Sofian Suri, dirumahkan oleh perusahaan.
Kala itu Amel masih duduk di bangku SMP. Sampai sekarang pun sang ayah tak punya pekerjaan tetap. Hanya jabatan Kepala Dusun dan pengurus musala yang melekat pada Sofian. Sementara sang ibu adalah guru di SDN 9 Dewantara, Gampong Calok Giri.
"Ayah pernah jualan jilbab di pekan Minggu, pernah juga jualan mainan di hari raya. Amel sama abang dan adik juga sering ikut," ujar gadis yang gemar bercerita dan menulis ini.
Gadis Penjual Tempe Melenggang ke AS dan Singapura
Sang ayah bahkan juga pernah membuat tempe untuk menopang perekonomian keluarga. Dengan bangga Amel mengaku pernah membantu menjual makanan dari kedelai itu. Tempe-tempe yang tidak habis terjual digoreng dan dijual keliling kompleks.
Amel lah yang menjajakan tempe goreng ini. Panas dan hujan dia terjang untuk menjajakan tempe goreng, demi membantu perekonomian keluarga.
Setelah benar-benar di-PHK oleh perusahaan dan mendapat pesangon, keluarganya sempat mencoba berjualan pakaian. Usaha ini cukup lama dijalani, namun belakangan usaha tersebut berakhir karena kekurangan pelanggan. Tapi Amel tak menganggap semua kesulitan tersebut menjadi kendala. Gadis yang jago bahasa Ingris ini malah giat belajar untuk menggapai cita-citanya.
Sejak kecil, Amel yang bercita-cita sebagai diplomat itu sangat ingin ke luar negeri. Mimpi itu berawal dari sebuah kamus Jerman yang ia temukan di rumah temannya, saat masih kelas V SD.
"Waktu itu Amel nggak tahu Jerman itu di mana, dan bisa dua kali ke luar negeri gratis kayak sekarang masih nggak percaya," kata dia.
Jika akhirnya ia bisa menjejakkan kaki ke negeri Paman Sam dan negeri Singa, semua itu karena jiwanya yang selalu menyukai tantangan. Suka mempelajari kebudayaan bangsa dan negara lain dan karena ketertarikannya pada bahasa. "Selain itu, kalau berhasil ke Amerika setahun, ayah nggak perlu keluarin uang untuk biaya sekolah dan jajan Amel di tahun itu," ujar Amel.
Di sekolah, Amel juga aktif di berbagai kegiatan seperti teater, debat, dan komunitas menulis. Bahkan tak jarang di hari libur dia tetap ke sekolah untuk belajar kelompok atau latihan teater. "Pokoknya Amel betah aja di sekolah," kata gadis periang ini.
Ke mana pun ia pergi, selalu ingat pesan sang ayah agar selalu belajar yang rajin. Dia juga diingatkan agar selalu berperilaku baik yang mencerminkan karakter orang Aceh yang sebenarnya.
"Ayah juga selalu bilang pergi terus jauh-jauh selama itu beasiswa, kalau ada universitas di bulan ke bulan pun Amel boleh pergi," tutur Amel.





                                                                                Untuk Next info......balikomputer.com


By copy@ rirght_2014 danny alasyieh







Rabu, 10 Desember 2014



Smartphone tertipis di dunia akhirnya resmi dirilis!

Minggu lalu, Vivo menggoda banyak publik dengan munculnya teaser bakal hadirnya smartphone terbaru - X5 Max. Perusahaan menjanjikan perangkat itu akan dirilis pada tanggal 10 Desember. It's time!

Hari ini, Vivo X5 Max resmi dirilis dengan mengusung predikat sebagai smartphone tertipis di dunia, mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Oppo R5.

Menurut lansiran Ubergizmo (10/12), memiliki body tipis dengan ketebalan 4,75mm.

Sementara spesifikasi Vivo X5 Max ini cukup mengesankan untuk ukuran smartphone super tipis. Membawa layar Super AMOLED berukuran 5,5inci dengan resolusi HD tentu akan sangat memanjakan mata Anda. Dual-SIM tetap menjadi andalan Vivo.

Perusahaan juga menanamkan 1,7GHz quad-core Cortex A53 CPU dan 1GHz quad-core Cortex A-53 64-bit CPU. Ada RAM berkapasitas 2GB, memori internal 16GB, kamera belakang 13MP, dan kamera depan 5MP. Sistem operasinya adalah Android 4.4.4 KitKat dengan Funtouch UI berjalan di atasnya.

Rencanaya, Vivo X5 Max baru akan menyusur pasar pada 22 Desember 2014 mendatang dengan harga USD 485 atau setara dengan Rp 5,9 juta. Anda berminat? Hub Link di : www.balikomputer.com

Senin, 08 Desember 2014

Keren, Tempat Nongkrong Ini Berada Diatas Awan



Nongkrong di taman, di bar atau di cafe, itu adalah hal biasa saja yang sudah lumrah dilakukan banyak orang. Lalu bagaimanakah jika nongkrong sambil ditemani gumpalan awan putih nan eksotis? Percayalah, ini adalah foto-foto asli dan bukan hasil rekayasa atau hasil editan.

Mencari tempat untuk menenangkan pikiran adalah satu-satunya jalan terbaik untuk mengistirahatkan otak setelah seharian penat bekerja. Namun pernahkah anda berpikir untuk menenangkan pikiran di atas awan, tetapi bukan dalam pesawat tentunya. Ya, tempat ini memang benar-benar ada karena letaknya yang sama persis dengan ketinggian awan sehingga pengunjung dapat menyaksikan sendiri gumpalan awan putih yang berada tepat dihadapannya.


Tempat eksotis ini menyajikan pemandangan indah serta sedap dipandang mata yang mampu menarik pengunjung untuk berbondong-bondong datang ke tempat ini. Pemandangan yang sangat menakjubkan ini dapat anda jumpai di Jepang. Tepatnya berada di Tomamu Resort, dekat Pulau Hokkaido.

The Unkai Terrace adalah suatu tempat unik dan indah yang terletak di atas puncak gunung dengan ketinggian setara dengan awan. Tempat ini menjadi sangat luar biasa karena menawarkan pemandangan lautan awan putih bagi para wisatawan tepat dihadapan mereka.

Fenomena "Unkai" (lautan awan) telah menarik perhatian wisatawan ke sebuah resor di kota Tomamu ini selama bertahun-tahun. Awan putih tebal yang terjadi di pegunungan ini ditentukan oleh mata air panas alami di daerah tersebut yang suhunya dapat berubah-ubah dalam waktu beberapa jam saja, yakni mulai dari malam sampai ke siang, sehingga fenomena lautan awan tersebut dapat dinikmati oleh wisatawan hanya dalam waktu-waktu tertentu saja.



Para wisatawan harus berangkat pagi-pagi untuk menuju ke Unkai Terrace, yang terletak tepat di atas lautan awan, di mana mereka dapat menyaksikan permandangan matahari terbit, mengambil foto puncak gunung Hidaka dan Tokachi sewaktu sinar matahari menembus kabut tebal dan menikmati secangkir kopi atau semangkuk sup yang menyegarkan. Meskipun harga tiket gondola untuk menuju ke puncak gunung agak mahal yaitu US $ 20 (atau sekitar 240 Ribu Rupiah), Namun pemandangan yang disuguhkan nampak sebanding dengan uang yang anda keluarkan.

Unkai Terrace dibuka untuk wisatawan pada setiap musim panas sampai akhir bulan September. Untuk melihat pemandangan yang indah ini anda harus bangun pagi-pagi sekali. Gondola akan mulai beroperasi untuk mengangkut penumpang pada pukul 04.00 hingga 08.30. Jika anda berencana untuk berwisata ketempat ini, pastikan untuk mengatur jam alarm terlebih dahulu.





Rabu, 26 November 2014

NIKMATNYA TUH DI BALI






        Kebetulan Danny anak kampung yang tinggal di pesisir pantai paling Utara dari kota Banda Aceh. Sudah jelas anak pantai berani dan tidak di ragukan lagi dalam hal berenang, apa sih pekerjaan kesehariannya setelah Danny pulang dari sekolah, dia mencari Udang, ikan, ketam yang ada di sugai dengan cara traditional, harus menyelam ke dasar sungai untuk mendapatkan Udang, ikan dan apa yang ada di dasar sungai. inilah saban hari yang di lakukan Danny sepulang dari sekolah bersama teman-temannya yang penuh dengan adreanaline atau tantangan tapi baginya ini hal biasa, dalam mencari ikan, udang dan ketam hasilnya di gunakan untuk jajan sekolah dan di simpan buat kuliah di kemudian hari. Penuh semangat dan berjuang untuk mengapai cita-ciatanya, karena baginaya impian itu akan terwujud dengen kebersamaan dalam berusaha dan berdoa dengan tulus ikhlas dalam menjalaninya, untuk mewujudkan impiannya Danny harus hijjriah ke Kota Banda Aceh memilih program Bahasa yang ada di perguruan tinggi Negeri Syiah Kuala Banda Aceh.                 
    Memang awalnya merasa ragu untuk kuliah di karenakan biaya yang di butuhkan sangat besar dan harus jauh dari keluarga dan teman-teman di kampung, walaupun demikian dengan penuh semangat dan harapanya si anak kampung untuk bisa kuliah tidak diragukan lagi. Namun ketika saya menoleh pada kondisi orang tua, rasa pesimis muncul. saya pun selalu merenung apa mungkin saya bisa kuliah. “Apa iya aku bisa kuliah” sambil melihat kerah kedua orang tuaku yang sudah tua renta di depannya aku terus menerawang nasip dan mimpi. Terjadi dialog di dalam hati si anak kampung. “Kamu jagan kuliah, lihat kondisi orang tua-mu. Perlu kamu tahu kamu bisa menempuh pendidikan sampai di SMA itu butuh perjuang dan pegorbanan yang besar dari dirimu ,bapak dan ibu-mu. Lebih baik kamu jadi anak pantai saja yang hanya tahu laut, sungai...,dan sungai....!!!!
       Tapi tetap melangkah dan tidak salah kalau kita mencoba hal-hal yang di luar nalar dan kemampuan kita, dengan tekad dan kamauan yang tinggi akhirnya bisa masuk ke perguruan Tinggi  Syiah Kuala jurusan Bahasa. maka di situ marasa terharu bercampur senang bisa kuliah di perguruan ternama yang ada di provinsi Aceh.         So....memasuki awal semester pertama Danny masih aman dan baik-baik aja belum kurang suatu apapun, nah jika tiba semester kedua uang saku yang di bawa dari kampung sudah menipis bahkan tidak ada sama sekali, karena cuma bermodal nekad dan doa untuk kuliah. Dengan demikian terpaksa Danny harus memutar otak gimana supaya bisa mendapatkan uang untuk keperluan Kuliah dan urusan perut karena kiriman dari kampung sama sekali tidak ada, akhirnya terpaksa harus bekerja sepulang dari kuliahnya. Teman-teman apa dari akhir kuliah anak kampung yang ingin mewujudkan cita2nya, akhirnya Danny tidak dapat melanjutkan lagi kuliah, bukan di karena biaya atau hal yang lain, tapi para pembaca setia bloger ingat apa yang terjadi di Provinsi Aceh 10 tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 26 Desember 2014, yang mana Aceh di landa Gempa 8,9 SR dan disusul dengan Tsunami yang menelan korban sekitar 200 ribu orang, termasuk Ibu dan adiknya yang jadi korban akibat Gempa dan tsunami yang meluluh lantakan Aceh, Dan apa yang terjadi dengan Danny karena kota Banda Aceh termasuk yang paling parah kerusakannya akibat gempa dan tsunami. pada kejadin itu Danny juga termasuk salah satu korban dari Bencana tersebut.
     

    Tidak biasaanya pada pagi minggu, 26 Desember 2004, menjadi hari paling tak terlupakan sepanjang sejarah hidupku. Aku diajak teman2 untuk menikmati suasana pantai di minggu pagi, sedang asik kami bermain2 di pantai Ulhe Lheu saat peristiwa mengerikan itu terjadi. Tak pernah kusangka diriku akan menjadi salah satu saksi hidup sebuah bencana terbesar dalam kancah sejarah dunia. Aku ada di sana, tubuhku tergulung-gulung, terombang-ambing, dan terseret derasnya arus air bah yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah hari itu.  Aku tak ingat berapa lama aku meronta-ronta dan mencoba menyelamatkan diri. Ketika akhirnya semua berakhir, kudapati diriku dalam kondisi mengenaskan. Pakaianku berbalut lumpur, tubuhku terluka di sana-sini terkena pecahan beling dan paku, dan kakiku terluka dan hancur sehingga harus di Amputasi, akibat membusuk dan lama mendapat Emegency, lima hari kemudian saya baru mendapatkan pertolongan oleh Tim relawan dan di bawa ke rumah sakit  Umum Zainal Abidin Banda Aceh.  Selanjutnya, setelah Danny melihat kakinya di Amputasi dengan spontan menangis, menjerit seperti orang gila. Berhari-hari aku terlunta-lunta, dalam kondisi shock berat, yang tak pernah kubayang sebelumnya ini akan terjadi pada diriku, di tambah lagi Ibu dan adiknya yang jadi korban tsunami.  Oh Tuhan...!! ternyata aku masih punya keluarga, ternyata aku tidak sebatang kara seperti perkiraanku. abang dan kakak ku masih selamat dari Bencana yang maha dasyat itu, kemudian aku di bawa pulang ke rumah di kampung setelah mendapat rekomendasi dari Dr. Ellitsa yang menanganiku, tetapi aku tidak berapa lama di rumah, lantas aku diboyong oleh abangku yang paling tua ke Medan, dalam kondisi masih labil dan dihantui rasa trauma berat. Dalam perjalana ke Medan, aku terus berteriak-teriak dan menangis seperti orang gila, dan perilaku tersebut berlanjut hingga tiba di Medan dan tinggal bersama keluarga Abangku di sebuah rumah di kawasan Pinang Baris, Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, Abangku terpaksa mengurungku di dalam kamar. Aku tidak boleh ke mana-mana.  Hari demi hari berlalu, kondisiku mulai stabil meskipun belum sepenuhnya sembuh dari trauma. Aku mulai jenuh terus-menerus berdiam diri di dalam kamar, sampai terbisik dalam benaku "What I DO" aku bingung, aku harus melakukan apa dengan fisikku yang terbatas. danny tidak memikirkan lagi dengan kuliahanya pupus sudah harapan untuk mewujudkana cita2nya, aku hampir putus asa...tapi itu tidak boleh terjadi mengingat aku seorang yang beriman dan aku yakin dengan firman Tuhan "di dalam kesempitan pasti ada kemudahan" pasti setiap kejadian ada Hikmahnya kalau kita mau mengambil pelajaran pada setiap kejadian. 


     
   
Danny tidak ingin berlarut dalam duka dan kesedihan yang tidak menentu arah tujuannya, sehingga Danny coba Browesing di Internet di mana ada pelatihan untuk Difabel, dengan tidak segaja danny terklik Link BBRVBD yang ada di Cibinong_Bogor. kemudian saya mengirim surat Regestrasi dan surat pelengkap lainnya, tidak berapa lama kemudian Danny di panggil untuk mengikuti pelatihan di Balai Besar Rehabilitasi vocasional Bina Daksa. Mendapat panggilan dari BBRVBD begitu kaget dan senang karena Danny yang hobby berpetualang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, maka langsung minta pamit, izin dan Doa dari kakaknya untuk berangkat ke Bogor, ini pengalaman pertama naik pesawat yang tak pernah tersirat sebelumnya AlhamduLiLLAh....!!! terbisik dalam hatinya.    Di sana Danny mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru suasana baru dan teman dari difabel lainya, dari Sabang sampai Marauke dengan bermacam-macam latar belakang budaya dan bermacam2 kecacatan yang dimiliki para peserta pelatihan. kebutulan Danny mengambil jurusan Komputer, selama setahun Danny mengikuti palatihan pihak BBRVBD memberi kesempatan untuk megikuti PKL di PT.GSS yang ada di Bogor, namum pihak perusahaan tempat saya ikuti magang mereka tidak menjamin saya untuk menjadi karyawan di PT.GSS. Akhirnya saya mencari cara bagai saya bisa bekerja skill atau kemampuan saya setelah mengikuti pelatihan di BBRVBD, mulai mencoba lagi menerawang atau Browesing yang kedu kali, kali ini tidak  mengenai pelatihan tetapi soal pekerjaan, sungguh beruntung nasibku walaupun aku buntung karena aku mendapat Informasi dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada di Bali yaitu D'Network lembaga yang memfasilitasi bagi penyandang Disabilitas, Perasaanku masi was-was karena belum pasti aku di terima pekerjaan di Bali, tapi Danny mencoba membawa lamaran dengan mendatagi kantor D'Network yang ada di Bali ternyata  perjuanganku sia-sia karena tidak mendapatkan respon yang baik dari Staff D'Network malahan di suruh mengikuti pelatihan lagi, namun aku tidak menyerah dengan begitu saja karena aku sudah punya skill dan kemampuan di bidang komputer, sehingga aku mulai memutar otak, mencari cara untuk mendapatkan pekerjaan demi bertahan hidup di Bali. sebab aku tidak mau dikasihani, walaupun aku punya kakak yang dibilang sukses dan mampu membiayaiku, aku sama sekali tidak mau bergantung padanya.   Dengan berkat dan kegigihanku dalam mencari pekerjaan di Bali, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di CV. Mirahayu ( balikomputer.com ) bagian Administrasi. Maka, berlanjutlah hidupku dalam hari-hari sebagai karyawan di CV. Mirahayu, yang dihadapkan dengan sebuah komputer yang mengontrol data-data pemasukan dan pengeluaran juga soal  surat-menyurat di perusahaan tersebut.


       
     
Dan di waktu libur aku isikan waktu luangku untuk berkumpul bersama teman-teman penyadang disabilitas yang ada di Yayasan Cahaya Mutiara Ubud, kami saling berbagi /share, belajar menari , melukis dan seni lainnya, kadang kala kami bertamasya untuk menikmati keindahan pulau bali, saya bangga kepada penyandang disabilitas yang ada di Bali, mereka begitu semangat, kreatif dan penuh seni, toleransi yang tinggi sehingga membuat   Danny betah untuk bekerja dan menetap di Bali. kalau ada yang mengkata-katai penyadang disabilitas hanya menunggu belas kasihan dan iba dari orang lain, itu perkataan yang keliru yang tidak berdasar, Danny merasa heppy dan senang di Bali, di samping sudah mendapatkan banyak teman, dan bisa menikmati keindahan pulau Dewata dengan sesungguhya, yang mana pulau 1001 pura dengan keindahan terdengar seluruh penjuru Dunia, aku merasa nikmatnya tuh di Bali, sorga bagi difable karena disabilitas di Bali terorganisir dalam berkreatifitas dan menampilkan bakat dan kemampuan yang dimiliki, semua itu tidak luput dari kepedulian dan sosial yang tinggi bagi pddk lokal dan wisatawan yang berkunjung ke Bali. 

       
Danny sebelumnya tidak bercita-cita untuk bekerja di Bali, hanya ingin bekerja di luar negeri namun tsunami dan titel kecacatan ku mengantarnya ke pulau Dewata, namun aku nikmati aja apa yang terjadi hari ini, semuanya ada hikmahnya, Danny mencoba melupakan peristiwa dan masa lalu, hidup yang penuh duka dan cerita kelam, ( has gone be by Gone )  dengan nikmati Bali of Beautiful, maka di sinilah Danny seakan-akan sudah mendapatkan semuanya, pekerjaan, teman, dan suasana di Bali yang menyenangkan.
Walaupun Danny sudah mendapatkan semuanya, ada satu hal yang belum dia dapat sudah hampir tiga tahun tinggal di Bali., mau tau...!!!??? apa mau tahu bageeeettt...!!!??apa sih belum danny dapat di Bali yaitu seorang pujaan hati, yang mana kala bisa menghiburnya bila kesedihan melandanya dan mengusap air matanya bila dia sedih dan menangis dan yang terpenting bisa saling berbagi dan mengerti antara satu dengan yang lainnya dengen penuh rasa perhatian dan kasih sayang. Danny ingin punya pacar seperti kadek Ary, seorang gadis lokal yang tergolong women of smart, care of heart, beautiful dan menjunjung tinggi nilai adat-istiadat daerahnya,,,Uups,,,jagan salah dulu, dia juga bagian dari Difable....hehehe....!!




                                                                            By Post Danny alasyieh © 2014_Bali



                                                                    The End


                                                                              










Jumat, 18 Juli 2014

Disabled tanpa putus ASA






Saya seorang laki-laki yang sudah berkeluarga yang mempunyai dua orang anak ,laki-laki dan satu orang perempuan, dan berkebutuhan khusus atau kekurangan fisik namun tidak mengurangi semangat saya untuk berkarya dan berusaha. Namun pada tahun 1989 saya mengalami kecelakaan sehingga kaki saya harus di amputasi bagian kaki kanan di atas lutut, saya sudah berobat ke Rumah Sakit dan melakukan terapy sehingga kaki saya sembuh, namun masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpa saya, setelah kejadian pada tahun 1989 yang menimpa saya, saya bingung dan berfikir saya harus melakukan apa dengan posisi saya seperti ini, dan pekerjaan saya yang dulu saya bangun bersama istri dengan menjual pukis dan roti donat dll. juga hancur atau terpuruk karena saya dalam beberapa bulan ke depan harus istirahat. Dengan kejadian ini saya tidak mendapatkan penghasilan sebagaimana biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya sehari-hari, maka saya terpaksa harus menjual satu persatu barang yang kami miliki termasuk pakaian demi membeli beras dan apabila tidak mencukupi, pernah terpaksa meminjam sama saudara atau tetangga untuk memenuhi keperluan sehari-hari . Setelah saya merasa sembuh baik fisik  maupun psikis yang saya alami selama ini maka saya kembali berusaha, dengan usaha  yang dulu kami geluti yaitu membuat roti pukis dan donat, namun kendalanya di modal, walaupun demikian tidak mengurangi semangat saya dan terus berusaha dengan mencoba pinjaman dari saudara2 saya, maka dengan modal yang sedikit kami mulai merintis usaha yang dulu.
Saya sangat bersyukur dan menghaturkan terimakasih kepada Saudara2 saya yang telah memberikan sedikit modal usaha untuk meneruskan dalam kelangsungan hidup saya dan keluarga, atas bantuan tersebut. Namun karena masih terbatasnya permodalan untuk membeli bahan baku dan kendala dalam hal pemasaran hasil produksi, maka dengan ini kiranya Bapak Dinas sosial provinsi Bali. berkenan dapat membantu mengatasi kendala yang saya hadapi dalam bentuk penambahan modal pembelian bahan baku/peralatan penunjang dan aksesibilitas serta dapat mengikutsertakan dalam pameran-pameran sebagai ajang promosi usaha yang sedang saya rintis.
Demikian permohonan ini saya ajukan karena saya sudah tidak tahu kepada siapa lagi harus meminta tolong, semoga Bapak Dinas Sosial provinsi Bali berkenan membantu dan merealisasikannya demi mewujudkan cita-cita dan harapan saya untuk dapat berkarya dan bisa berkembang usaha saya ini dan bisa membantu dan termotivasi teman-teman penyandang disabilitas yang lainnya. Akhirnya atas bantuan serta perkenan Bapak, saya haturkan terima kasih. Om santih santih santih om..!!